Saya Hadir Bukan Hanya Sebagai Pimpinan: Kalapas Perempuan Ambon Turun ke Kamar Warga Binaan Dengarkan Cerita yang Tak Terucap
Admin
09 September 2026
Ambon — Tidak semua persoalan dapat ditemukan melalui laporan. Tidak semua keluhan berani disampaikan dalam forum resmi. Menyadari hal tersebut, Kepala Lapas Perempuan Kelas III Ambon turun langsung ke kamar-kamar hunian warga binaan, Selasa (8/09).
Didampingi Kasubsi Kamtib dan Komandan Jaga, Kalapas Perempuan Ambon, Hesta Van Harling tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga membuka ruang bagi warga binaan untuk berbicara dan berbagi cerita.
“Saya hadir bukan hanya sebagai pimpinan. Saat masuk ke kamar-kamar mereka, saya ingin hadir sebagai teman dan saudara. Saya ingin mereka merasa nyaman untuk bercerita dan menyampaikan apa yang menjadi persoalan mereka,” ungkap Hesta.
Pendekatan tersebut ternyata membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Dalam suasana yang lebih dekat, sejumlah warga binaan menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini belum diketahui secara langsung oleh pimpinan.
Salah satunya, seorang tahanan menyampaikan kesulitan dalam berkomunikasi untuk memperoleh data maupun berkas yang dibutuhkan dalam proses persidangan.
Bagi Kalapas, setiap cerita yang disampaikan bukan sekadar keluhan, melainkan bahan evaluasi untuk melihat apa yang masih perlu diperbaiki dalam sistem pelayanan dan pembinaan di Lapas.
“Kalau kita hanya menunggu mereka datang dan menyampaikan keluhan, mungkin ada banyak hal yang tidak pernah kita ketahui. Ketika kita datang dan mendengarkan langsung, kita bisa melihat persoalan dengan lebih utuh,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan tidak hanya berbicara tentang aturan dan kedisiplinan, tetapi juga tentang kepercayaan, komunikasi dan kepedulian.
“Pembinaan bukan hanya tentang mengarahkan. Pembinaan adalah tentang hadir, mendengar, memahami dan peduli.”
Melalui pendekatan tersebut, Lapas Perempuan Ambon terus berupaya membangun pembinaan yang lebih humanis—di mana warga binaan tidak hanya dibina untuk menjadi lebih baik, tetapi juga didengar, dihargai dan dipersiapkan untuk kembali ke tengah masyarakat.
Karena terkadang, untuk menemukan sebuah persoalan, seorang pemimpin tidak cukup hanya membaca laporan. Ia harus mau datang lebih dekat, duduk bersama, dan mendengarkan cerita yang tak terucap.
Lapas Perempuan Ambon
Pembinaan Bermartabat, Perempuan Berdaya.
Didampingi Kasubsi Kamtib dan Komandan Jaga, Kalapas Perempuan Ambon, Hesta Van Harling tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga membuka ruang bagi warga binaan untuk berbicara dan berbagi cerita.
“Saya hadir bukan hanya sebagai pimpinan. Saat masuk ke kamar-kamar mereka, saya ingin hadir sebagai teman dan saudara. Saya ingin mereka merasa nyaman untuk bercerita dan menyampaikan apa yang menjadi persoalan mereka,” ungkap Hesta.
Pendekatan tersebut ternyata membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Dalam suasana yang lebih dekat, sejumlah warga binaan menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini belum diketahui secara langsung oleh pimpinan.
Salah satunya, seorang tahanan menyampaikan kesulitan dalam berkomunikasi untuk memperoleh data maupun berkas yang dibutuhkan dalam proses persidangan.
Bagi Kalapas, setiap cerita yang disampaikan bukan sekadar keluhan, melainkan bahan evaluasi untuk melihat apa yang masih perlu diperbaiki dalam sistem pelayanan dan pembinaan di Lapas.
“Kalau kita hanya menunggu mereka datang dan menyampaikan keluhan, mungkin ada banyak hal yang tidak pernah kita ketahui. Ketika kita datang dan mendengarkan langsung, kita bisa melihat persoalan dengan lebih utuh,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan tidak hanya berbicara tentang aturan dan kedisiplinan, tetapi juga tentang kepercayaan, komunikasi dan kepedulian.
“Pembinaan bukan hanya tentang mengarahkan. Pembinaan adalah tentang hadir, mendengar, memahami dan peduli.”
Melalui pendekatan tersebut, Lapas Perempuan Ambon terus berupaya membangun pembinaan yang lebih humanis—di mana warga binaan tidak hanya dibina untuk menjadi lebih baik, tetapi juga didengar, dihargai dan dipersiapkan untuk kembali ke tengah masyarakat.
Karena terkadang, untuk menemukan sebuah persoalan, seorang pemimpin tidak cukup hanya membaca laporan. Ia harus mau datang lebih dekat, duduk bersama, dan mendengarkan cerita yang tak terucap.
Lapas Perempuan Ambon
Pembinaan Bermartabat, Perempuan Berdaya.